Wanita itu berjalam gontai menuju sebuah jembatan disebuah danau nan indah pemandangannya. Dress hitam membalut anggun tubuh langsingnya. Rambut panjang yang dibiarkan terurai menambah cantik penampilannya. Namun semua itu tak senada dengan raut wajah yang bagai mendung yang tak berkesudahan. Riasan dimatanya pudar karena tangisnya. Membuat sapuan bedaknya pun juga hilang. Hingga kini wajahnya tampak tak karuan.
Perlahan ia duduk di tepi jembatan itu dengan menggantungkan kaki yang beralaskan permukaan danau itu.
Tatapannya kosong menatap kunang-kunang yang menari-nari didepannya. Tiba-tiba tangannya terangkat. Menyentuh salah satu kunang-kunang itu. Dan senyumnya pun merebak. Namun sedetik kemudian air matanya pecah lagi disertai isak yang tampak menyesakkan nafasnya. Matanya terpejam. Tangannya tutupi wajah yang lebih tak karuan dari pada yang tadi.
Perlahan nafasnya mulai ia paksa untuk teratur. Ia hembuskan nafas-satu-per-satu. Dan matanya terbuka memperlihatkan biru laut nan indah. Tangannya pun merangkul kaki yang ia dekatkan dengan badannya.
Angin berhembus sepoi-sepoi, sejenak mendung melanda wilayah itu kemudian mendung itu menyatu menjadi langit hitam & menumpahkan air mata langit.hujan. rintik demi rintik jadi lebat. Wanita itu menandahkan telapak tangannya pada sang hujan. Darah dengan tiba-tiba jatuh dari hidup mancungnya.
Dan kepalanya berat untuk tegak begitu juga badannya –berat ‘tuk menopang tubuhya-. Segalanya akhirnya hitam gelap tana 1 pun titik cahaya.
***
Sayapnya mengembang dari punggungnya hingga mencapai atas kepalanya. Berdiri, membuka mata merah dengan bintang didalamnya. Berjalan setapak demi setapak dan melalui cakrawala yang indah.
Dan mentari membuka jendela pagi menyudahi malam kelam itu lewat kicau burung juga tetes embun. Fajar mulai merajai nusantara.
Sayapnya tersapu angin. Lama kelamaan hilang. Seiring sunrise yang gembira tinjukkan badannya.
Matanya pun berubah. Begitu juga jiwa dan seluruh yang ada pada dirinya menjadi
MANUSIA SEUTUHNYA LAGI




0 komentar:
Posting Komentar