Pages

Ads 468x60px

cerita adalah gambaran atas diri kita

Jumat, 06 Januari 2012

GITA cinta yang menggema di LAUT cinta

Part 1                                                     - Gita -
Butiran pasir menyapa telapak kakinya yang tak beralas. Angin memberantakkan rambut panjangnya yang terurai. Langkahnya terhenti. Lalu diletakkannya sepatu yang sejak tadi ia jinjing. Duduklah ia dibutiran –butiran pasir yang lembut itu. Ia merogoh tas tanggannya dan temukan sebuah alat musik yang sangat ia segani untuk memainkannya. Harmonika.
                Nada demi nada ia mainkan hingga tersusun simfoni yang begitu  indah.
“Gita.” Seseorang memanggil namanya dari kejauhan dan berlari menghampirinya. Permainan harmonica Gita pun terhenti mendengar nafas terengah-engah didekatnya itu.
“rean ada apa?” Tanya Gita pada rean,sahabatnya.
“tadi gita tak cari ternyata disini. Aku mau pinjem Ipodnya.” Jawab rean dengan nafas tak teratur yang membuat ucapannya terbata-bata.
“itu di tas.”. kembali Gita memainkan harmonikanya yang terhenti karena kedatangan Rean,
“itu lagumu yang baru ya,git.” Kata rean di nada-nada terakhir. Gita mengangguk , mengiyakan kata-katanya,
“senja sudah hamper berakhir”cetus rean. Gita pun berdiri ,diikuti dirinya
“pulang yuk”
                                                       ***
Part  2.                                               – LAUT -
Malam datang, bintang mulai bermunculan. Bulan pun hadir menyertainya. Suara angin laut begitu keras  terdengar menerpa jendela kamar Gita. Hingga ia tebangun dari tidurnya yang sejak tadi tak temukan mimpi . gita pun berdiri , lalu membuka jendelanya lebar-lebar. Ia rasakan hembu demi hembus angin itu. Angin yang senada dengan arus ombak.telinganya menyapa ramah  nada-nada  selaras  malam  itu. Diikuti langkah kaki mendekati  sumber  suara  itu.
Sampailah ia ditepi laut cinta –laut iang selalu memilki sejarah indah dalam hal  percintaan. Ada mitos mengatakan bahwa dalam ketidaksengajaan dapat membawa keabadian. Yang bermaksud , bila seseorang entah cowok / cewek bertemu lawan jenis yang tidak mereka kenal  dan mereka brpandangan selama 5 detik. Maka, mereka akan menjadi jodoh- ,lalu gita duduk beralaskan pasir putih itu.
“kenapa kamu disini?” suara cowok yang sepertinya dari samping kanannya.suara itu layaknya orang sedang berduka –memang laut cinta selain memiliki mitos(sejarah cinta itu) juaga banyaj dikunjungi karna merupakan tempat ynag cocok untuk meluapkan emosi. Warga pun tak mempermasalahkan suara teriakan seseorang saat meluapkan  emosinya. Namun laut cinta tak begitu terkenal jadi tempat itu masih asri dan indah.
“ngikutin angin ” jawab Gita singkat.
“lautnya indah. Malam ini pun cerah. Nyaman bangrt disini.” Kata-katanya terasa tenang tak seperti tadi. Gita hanya menanggapi dengan senyuman.
“oh ya namaku LAUT” kata seseorang bernama laut itu, sambil menghadapnya dan mengulurkan tangan.
“aku GITA”. Memandang lurus, tak menggubris laut.
“oh, gita. Terus kenapa kamu disini? Aku nggak percaya cuma ngikutin angin kayak yang kamu bilang tadi” laut menghadap ke laut lagi karena tahu uluran tangannya tak digubris sama sekali oleh gita.
“iya memang aku lagi ngikutin angin. Kalau kamu sendiri? Lagi ada masalah? Aku denger laut ini cocok buat orang yang lagi patah hati”
          Suasana kaku itu kemudian mencair. Walau hanya sebentar perkenalan itu. Namun canda dan tawa berhamburan setelah suasana itu mencair.
                                              ***
Part 3                                                  LAUT TEMUKAN GITA
Sejak malam itu laut semakin sering datang ke laut cinta, bukan untuk menenangkan hatinya, namun menjawab rasa penasarannya terhadap sosok cewek yang baru ia kenal bernama “gita”.
            Langkahnya ia percepat kalau melihat sosok gita yang ada di depannya.
“gita” teriaknya coba membarengi langkah gita.
“laut”. Gita mencari sumber suara itu.
“hai”. Berhenti & mengatur nafasnya yang terengah-engah.
“hai”.tersenyum.
            Siskp cuek Gita yang selalu membuat rasa penasarannya mebjadi-jadi. Seperti sekarang saat mereka jalan berdua, tak sedetik pun Gita menoleh kan wajahnya. Disisi lain Laut yang tak pernah henti memandang wajahnya.
“sudah,laut. Wajahku tak akan kemana-mana.” Ucap Gita.
“maksutnya?”
“gak usah kamu pandangi seperti itu.”
“oh”jawab Laut, salah tingkah.
“ehm..duduk disini yuk,git.”salah tingkahnya pun membuat wajahnya merah merona.
“iya”Gita tersenyum.menambah merah wajah Laut bagai tomat yang telah matang.
            Mereka memandang laut cinta sambil diselangi obrolan-obrolan tentang kehidupan mereka masing-masing. Keseharian Laut sebagai pengusaha sukses pun, ia jelaskan panjang lebar pada Gita. Begitu juga Gita yang seorang pengusaha bunga yang terbilang berhasil. Kekaguman masingmasing individu itu muncul, ketika Laut menceritakan begitu bangga ia yang dapat dilahirkan sempurna tanpa cacat apapun, juga saat Gita bercerita tentang kerja kerasnya sebagai penopang hidup keluarganya ketika sang ayah meninggal. Hening menjelma diantara Laut dan Gita. Tak kunjung hilang hingga suara hamonika Gita menggema, terdengar ditelinga mereka. Kaget , itulah perasaan Laut saat itu. Matanya menatap Gita yang tampak anggun memainkan harmonica & seluruh tubuhnya seakan membeku. Hanya indera pendengarannya yang tajam mencerna tiap nada yang dimainkan oleh Gita.
                                                            ***

1 komentar: